Perbedaan
Kepentingan
Banyak rakyat dan
pemimpin negara yang mempunyai argumen masing-masing untu kepentingannya. Namun
Kadang juga secara terioristis, perbedaan kepentingan dapat menimbulkan masalah
yang besar bagi orang yang melakukanya. Dipandang sebagai perilaku, konflik
merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual,
interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi. Konflik ini terutama
pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres. Ada pun
dibawah ini yang merupakan bagian dari faktor penyebab konflik :
1.
Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
2.
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi
yang berbeda.
3.
Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
4.
Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Namun dibalik konflik tersebut terdapat sebuah Lubang hitam yang begitu
besar yang bisa menghantui siapa saja , dibawah ini merupakan akibat dari
konflik :
1. meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami
konflik dengan kelompok lain.
2.
keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
3.
perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam,
benci, saling curiga dll.
Diskriminasi
dan ethosentris
A.
Diskriminasi
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang
tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan
kumpulan yang diwakili oleh individu berkenaan. Diskriminasi merupakan suatu
amalan yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia. Ia berpuncak daripada
kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan manusia.
B.
Etnosentrisme
Etnosentrisme atau sukuisme adalah sikap
berlebihan yang menganggap hanya etnis kelompok tertentu saja yang baik, benar
dan unggul. Adapun kelompok lainnya tidak. Dampak yang dihasilkannya bisa
sangat fatal akibatnya. Bayangkan saja jika generalisasi kasar dilakukan
terhadap etnis tertentu yang dianggap negatif sebagai; kasar, kotor, bermental
buruk, atau bahkan musuh, maka tidak jarang akan berujung pada konflik komunal.
Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif
atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat
ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih
dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami, paling sedikit 7 juta
orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi
dari Barat sampai Timur, dari Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah
mengalir dari Yugoslavia, Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet
sampai Sudan, dari Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut
melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama.
Etnosentrisme atau sukuisme ternyata begitu
kental dalam pergaulan sehari-hari. Pandangan tentang keunggulan etnis tertentu
atas lainnya sudah menjadi rahasia publik. Disebut rahasia, sebab pengakuan
keunggulan tersebut diakui secara umum oleh masing-masing kelompok (etnis,
suku, bahkan agama), meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Pertentangan
dan Ketegangan Dalam masyarakat
Konflik (pertentangan) mengandung suatu
pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang
dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dasar
konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri-ciri dari
situasi konflik yaitu :
·
Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang
terlibat didalam konflik
·
Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam
kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap,
maupun gagasan-gagasan
·
Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai
perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan
emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau
permusuhan. Konflik dapat terjadi paa lingkungan yang paling kecil yaitu
individu,sampai kepada lingkungan yang luas yaitu masyarakat
·
Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya
pertentangan, ketidakpastian, atau emosi emosi dan dorongan yang antagonistic
didalam diri seseorang
·
Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi
dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam
tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk
menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
·
Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di
antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma
kelompok yang bersangkutan berbeda.Perbedan-perbedaan dalam nilai, tujuan dan
norma serta minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan
sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang aa
dalam kebudayaan-kebudayaan lain.
Adapun cara-cara pemecahan konflik tersebut adalah :
·
Elimination; yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang telibat
dalam konflik yagn diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami
keluar, kami membentuk kelompok kami sendiri
·
Subjugation atau domination, artinya orang atau pihak yang
mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk
mentaatinya
·
Mjority Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting
akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
·
Minority Consent; artinya kelompok mayoritas yang memenangkan,
namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta
sepakan untuk melakukan kegiatan bersama
·
Compromise; artinya kedua atau semua sub kelompok yang telibat
dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah
·
Integration; artinya pendapat-pendapat yang bertentangan
didiskusikan, dipertimbangkan dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai
suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak
Golongan - golongan yang berbeda dan Integrasi sosial
masyarakat
indonesia adalah masyarakat yang majemuk, msyarakat majemuk itu di persatukan
oleh sistim nasional negara indonesia. aspek-aspek kemasyarakatann yang
mempersatukannya antara lain :
1. Suku
bangsa dan kebudayaannya
2. Agama.
3. Bahasa
4. Nasion
Indonesia
Masalah
besar yang di hadapi indonesia adalah sulitnya integrasi antara 1 dengan yang
lainnya. Masyarakat-masyarakat yang ada
di indonesia mereka tetap hidup berdampingan pada kemajemukannya,
Berikut
adalah beberapa variabel yang dapat menghambat integrasi :
1.
Klaim/Tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang di anggap
sebagai miliknya
2. Isu asli tidak asli berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi
antar warga negara indonesia asli dengan keturunan lain
3.
agama, sentimen agama dapat di gerakkan untuk mempertajam
kesukuan.
4.
prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang
golongan tertentuk.
Dalam hal
ini masyarakat indonesia seringkali terhambat integrasinya karena variabel
variabel yang di sebutkan di atas. masyarakat indonesia pada umumnya masih
sulit untuk menerima sesuatu yang baru ataupun yang berbeda dengan yang biasa
ia temukan. misalnya saja antar agama masih sering terjadi permusuhan/ sering
terjadi perang agama di desa-desa yang berada di pulau jawa. hal tersebut
menunjukkan bahwa betapa sulitnya bagi mereka untuk berintegrasi tanpa
menyangkut pautkan variabel-variabel yang ada di atas tadi.
Integrasi Nasional
Integrasi
nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada
pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara
nasional.
Seperti
yang kita ketahui, Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar baik dari
kebudayaan ataupun wilayahnya. Di satu sisi hal ini membawa dampak positif bagi
bangsa karena kita bisa memanfaatkan kekayaan alam Indonesia secara bijak atau
mengelola budaya budaya yang melimpah untuk kesejahteraan rakyat, namun selain
menimbulkan sebuah keuntungan, hal ini juga akhirnya menimbulkan masalah yang
baru. Kita ketahui dengan wilayah dan budaya yang melimpah itu akan
menghasilkan karakter atau manusia manusia yang berbeda pula sehingga dapat
mengancam keutuhan bangsa Indonesia.
Faktor-faktor
pendorong integrasi nasional sebagai berikut:
1.
Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
2. Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaimana
dinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
3. Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana
dibuktikan perjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
4. Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara,
sebagaimana dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan
perjuangan.
5.
Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi
Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan
Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia.
Faktor-faktor
penghambat integrasi nasional sebagai berikut:
- Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktor-faktor kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah, agama yang dianut, ras dan sebagainya.
- Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi oleh lautan luas.
- Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
- Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk rasa.
- Adanya paham “etnosentrisme” di antara beberapa suku bangsa yang menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.
Contoh wujud
integrasi nasional, antara lain sebagai berikut:
1. Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta oleh
Pemerintah Republik Indonesia yang diresmikan pada tahun 1976. Di kompleks
Taman Mini Indonesia Indah terdapat anjungan dari semua propinsi di Indonesia
(waktu itu ada 27 provinsi). Setiap anjungan menampilkan rumah adat beserta
aneka macam hasil budaya di provinsi itu, misalnya adat, tarian daerah, alat
musik khas daerah, dan sebagainya.
2. Sikap toleransi antarumat beragama, walaupun agama kita berbeda
dengan teman, tetangga atau saudara, kita harus saling menghormati.
3. Sikap menghargai dan merasa ikut memiliki kebudayan daerah lain,
bahkan mau mempelajari budaya daerah lain, misalnya masyarakat Jawa atau
Sumatra, belajar menari legong yang merupakan salah satu tarian adat Bali.
Selain anjungan dari semua propinsi di Indonesia, di dalam komplek Taman Mini
Indonesia Indah juga terdapat bangunan tempat ibadah dari agama-agama yang
resmi di Indonesia, yaitu masjid (untuk agama Islam), gereja (untuk agama
Kristen dan Katolik), pura (untuk agama Hindu) dan wihara (untuk agama Buddha).
Perlu diketahui, bahwa waktu itu agama resmi di Indonesia baru 5 (lima) macam.
Contoh-contoh
pendorong integrasi nasional :
-
Adanya rasa keinginan untuk bersatu agar menjadi negara yang lebih
maju dan tangguh di masa yang akan datang.
-
Rasa cinta tanah air terhadap bangsa Indonesia
-
Adanya rasa untuk tidak ingin terpecah belah, karena untuk mencari
kemerdekaan itu adalah hal yang sangat sulit.
-
Adanya sikap kedewasaan di sebagian pihak, sehingga saat terjadi
pertentangan pihak ini lebih baik mengalah agar tidak terjadi perpecahan
bangsa.
-
Adanya rasa senasib dan sepenanggungan
-
Adanya rasa dan keinginan untuk rela berkorban bagi bangsa dan negara
demi terciptanya kedamaian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar